MTsN 2 Muara Enim EKOTEOLOGI Belajar Bahasa Inggris Sambil Merawat Bumi, MTsN 2 Muara Enim Terapkan Nilai Ekoteologi

Belajar Bahasa Inggris Sambil Merawat Bumi, MTsN 2 Muara Enim Terapkan Nilai Ekoteologi

Muara Enim (Kemenag Sumsel)—

Belajar Bahasa Inggris tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Di MTsN 2 Muara Enim, tanaman hidroponik yang telah berjalan di lingkungan madrasah menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa sekaligus sarana menanamkan nilai ekoteologi. Senin (21/9/2026), siswa mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris dengan memanfaatkan aktivitas hidroponik sebagai media belajar yang dekat dengan kehidupan mereka.

Di bawah bimbingan guru Bahasa Inggris, Zahab Jaka Agusena, siswa mengenal berbagai istilah Bahasa Inggris yang berkaitan dengan tanaman dan proses budidayanya, kemudian mengaplikasikannya melalui aktivitas nyata.

Mulai dari mengenal benih, media tanam, proses penyemaian, pertumbuhan tanaman, hingga perawatan hidroponik, siswa diajak menghubungkan kemampuan berbahasa dengan pengalaman langsung. Mereka bekerja secara berkelompok, berdiskusi, mengikuti instruksi, serta mengamati perkembangan tanaman.

Zahab Jaka Agusena mengatakan, pembelajaran tersebut dirancang agar Bahasa Inggris tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran, tetapi juga digunakan dalam situasi nyata.

“Anak-anak tidak hanya menghafal kosakata Bahasa Inggris. Mereka langsung menggunakannya dalam aktivitas hidroponik yang mereka lakukan. Jadi, bahasa dan praktik berjalan bersama,” ujarnya.

Menurutnya, aktivitas tersebut juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar tentang tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Ketika mereka merawat tanaman, mereka belajar bahwa setiap makhluk membutuhkan perhatian. Dari sini kita bisa menanamkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pembelajaran,” tambahnya.

Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, menilai pemanfaatan hidroponik sebagai media pembelajaran sejalan dengan upaya madrasah mengintegrasikan nilai ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.

“Ekoteologi mengajarkan kita untuk melihat hubungan antara manusia, alam, dan tanggung jawab kepada Allah SWT. Karena itu, merawat tanaman bukan hanya aktivitas biasa, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan kepedulian anak terhadap ciptaan Allah,” tutur Misliyani yang biasa disapa Umi.

Ia menambahkan, lingkungan madrasah dapat menjadi laboratorium kehidupan bagi siswa. Melalui aktivitas sederhana seperti merawat tanaman, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

“Kita ingin anak-anak memahami bahwa ilmu yang mereka dapatkan harus melahirkan tindakan. Ketika mereka belajar Bahasa Inggris sambil merawat tanaman, ada pengetahuan, keterampilan, kerja sama, dan nilai kepedulian yang tumbuh secara bersamaan,” jelasnya.

Pembelajaran berbasis hidroponik tersebut juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk memahami bahwa pemanfaatan teknologi dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap alam. Hidroponik memungkinkan tanaman dibudidayakan secara produktif dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di lingkungan madrasah.

Nilai ekoteologi kemudian tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan melalui kebiasaan menjaga dan merawat tanaman. Siswa belajar bahwa lingkungan bukan sekadar latar tempat belajar, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

Bagi MTsN 2 Muara Enim, pengalaman tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran berdampak. Bahasa Inggris menjadi pintu untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, sementara hidroponik menjadi media untuk menumbuhkan keterampilan hidup dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dari tanaman yang mereka rawat, siswa belajar tentang proses dan kesabaran. Dari kerja kelompok, mereka belajar tanggung jawab. Dari Bahasa Inggris, mereka belajar berkomunikasi dengan lebih luas. Dan dari nilai ekoteologi, mereka diajak memahami bahwa merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Pembelajaran hari ini pun menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar madrasah: belajar, menanam, merawat, dan menjaga bumi bersama-sama. (SM)

2 Likes

Author: humas-dev-2026