Muara Enim (Kemenag Sumsel)—-
Daun-daun kering yang terkumpul dari kegiatan gotong royong di lingkungan MTsN 2 Muara Enim tidak akan berakhir sebagai sampah. Madrasah berencana mengolahnya menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Langkah ini menjadi kelanjutan dari aksi peduli lingkungan yang dipimpin Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, bersama beberapa siswa pada Selasa (27/10/2026).
Pemanfaatan daun kering menjadi kompos merupakan langkah nyata dalam menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus membiasakan siswa mengelola sampah organik secara bertanggung jawab. Daun yang sebelumnya berserakan di pekarangan dikumpulkan untuk diolah menjadi bahan yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman di lingkungan madrasah.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa tidak semua sisa tumbuhan harus dibuang. Daun kering termasuk bahan organik yang dapat terurai secara alami dan diolah menjadi kompos dengan proses pengomposan yang tepat. Dengan demikian, kegiatan membersihkan lingkungan tidak hanya menghasilkan pekarangan yang lebih rapi, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, menekankan pentingnya membangun kebiasaan peduli lingkungan melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajarkan kepada siswa bahwa menjaga lingkungan tidak berhenti pada kegiatan membersihkan dan mengumpulkan sampah. Kita juga perlu belajar memanfaatkan apa yang masih bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna. Daun kering dapat menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk tanaman. Inilah salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab kita dalam merawat alam,” ujarnya.
Pengolahan daun kering menjadi kompos juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa. Mereka dapat mengenal proses penguraian bahan organik, memahami manfaat kompos bagi tanah, serta menumbuhkan kebiasaan mengurangi sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Lebih dari sekadar pengelolaan sampah, langkah ini mencerminkan penerapan ekoteologi di lingkungan madrasah. Nilai-nilai keagamaan tidak hanya disampaikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku menjaga kebersihan, merawat tanaman, dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.
Kompos yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung perawatan tanaman di lingkungan MTsN 2 Muara Enim. Pemanfaatan tersebut diharapkan membantu menyuburkan tanah sekaligus memperkuat kebiasaan mengelola sampah organik secara berkelanjutan.
Melalui langkah sederhana ini, MTsN 2 Muara Enim berupaya membangun pola pikir bahwa sampah organik bukan semata-mata sesuatu yang harus disingkirkan, melainkan dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan benar. Kebiasaan tersebut diharapkan tumbuh menjadi bagian dari karakter siswa, baik di madrasah maupun di rumah.
Upaya ini sekaligus memperkuat komitmen madrasah dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berlandaskan nilai keimanan. Dengan mengubah daun kering menjadi pupuk kompos, MTsN 2 Muara Enim menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana yang membawa manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang. (SM)
