MTsN 2 Muara Enim Berita Bukan Sekadar Menghitung, Siswa MTsN 2 Muara Enim Asah Keberanian dan Berpikir Kritis melalui Teorema Pythagoras

Bukan Sekadar Menghitung, Siswa MTsN 2 Muara Enim Asah Keberanian dan Berpikir Kritis melalui Teorema Pythagoras

Muara Enim, Kemenag Sumsel —

Pembelajaran Matematika di kelas 8C MTsN 2 Muara Enim berlangsung interaktif pada Rabu, 4 November 2026. Melalui penerapan Teorema Pythagoras dalam kehidupan sehari-hari, siswa tidak hanya ditantang memahami konsep dan menyelesaikan persoalan matematika, tetapi juga dilatih membangun keberanian, menyampaikan pendapat, serta mengomunikasikan hasil pemikiran di hadapan orang lain.

Di bawah bimbingan guru Matematika, Sherly Margita, pembelajaran dirancang melalui Lembar Kerja Peserta Didik yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Mereka bekerja sama dalam kelompok, mengidentifikasi permasalahan kontekstual, mendiskusikan strategi penyelesaian, hingga mempresentasikan hasil pekerjaan di depan kelas.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus membangun kepercayaan diri melalui pengalaman belajar secara langsung.

Salah satu momen menarik terlihat ketika sesi presentasi hasil diskusi kelompok berlangsung. Zalza, siswa kelas 8C, tampil mewakili kelompoknya untuk menjelaskan hasil pengerjaan LKPD. Dengan penuh keberanian, ia menyampaikan langkah-langkah penyelesaian, menguraikan alasan penggunaan Teorema Pythagoras, serta menjelaskan logika di balik jawaban yang diperoleh.

Keberanian Zalza menjadi contoh positif bahwa pembelajaran bukan hanya tentang menemukan jawaban yang benar, tetapi juga tentang keberanian mengungkapkan proses berpikir dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.

Guru Matematika, Sherly Margita, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut sengaja dirancang untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa agar terlibat aktif dalam pembelajaran.

“Matematika bukan sekadar menghafal rumus dan menghitung angka. Lebih dari itu, Matematika melatih siswa berpikir logis, menganalisis permasalahan, mencari solusi, dan berani mengomunikasikan hasil pemikirannya. Kami ingin setiap siswa memiliki kesempatan untuk berkembang dan tidak takut menyampaikan pendapat,” ungkap Sherly.

Suasana pembelajaran semakin hidup ketika kelompok yang melakukan presentasi mendapat tanggapan dari teman-temannya. Siswa lainnya menyimak penjelasan, memberikan pendapat, serta mengajukan pertanyaan terkait proses penyelesaian soal.

Interaksi tersebut menciptakan pembelajaran dua arah yang mendorong siswa untuk saling menghargai pendapat, belajar bekerja sama, dan membangun keberanian berkomunikasi.
Pendekatan ini juga memberikan pengalaman bahwa kesalahan dalam proses belajar merupakan bagian dari upaya memahami materi. Dengan pendampingan dan apresiasi guru, siswa didorong untuk terus mencoba, bertanya, dan memperbaiki pemahamannya.

Zalza mengaku senang mendapat kesempatan untuk menjelaskan hasil pekerjaan kelompoknya di depan kelas.

“Awalnya merasa gugup ketika diminta maju untuk menjelaskan hasil LKPD Pythagoras. Namun, setelah mencoba dan mendapat dukungan dari guru serta teman-teman, ternyata menyenangkan. Kami juga menjadi lebih memahami materi karena harus menjelaskan kembali cara penyelesaiannya,” tuturnya.

Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, mengapresiasi pembelajaran yang memberikan ruang kepada siswa untuk aktif, berani, dan mandiri dalam mengembangkan potensi dirinya.

Menurutnya, proses pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Madrasah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, menumbuhkan kepercayaan diri, serta membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan.

“Setiap anak memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, guru perlu menghadirkan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berkembang. Kami ingin anak-anak tidak hanya mampu memahami pelajaran, tetapi juga berani berbicara, berpikir kritis, bekerja sama, dan menghargai pendapat orang lain,” ungkap Misliyani.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran yang menyenangkan, penuh apresiasi, dan berpusat pada peserta didik merupakan bagian dari upaya madrasah menghadirkan pendidikan yang bermakna sesuai semangat Kurikulum Berbasis Cinta.

Penerapan Teorema Pythagoras dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari pembelajaran tersebut. Siswa diajak memahami bahwa konsep matematika tidak berhenti pada rumus di buku pelajaran, tetapi dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan nyata yang berkaitan dengan pengukuran jarak, panjang, dan tinggi.

Melalui kegiatan diskusi dan presentasi, sejumlah kompetensi dikembangkan secara bersamaan, mulai dari kemampuan numerasi, penalaran logis, pemecahan masalah, kerja sama, hingga keterampilan komunikasi.

Pembelajaran ini juga sejalan dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta, yang memberikan ruang bagi siswa untuk tumbuh dalam suasana belajar yang menghargai setiap proses, menghormati pendapat, saling mendukung, dan memberikan kesempatan yang setara untuk berkembang.

Kegiatan di kelas 8C tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari kemampuan siswa menyelesaikan soal, tetapi juga dari tumbuhnya keberanian, kemandirian, dan karakter positif dalam diri mereka.

MTsN 2 Muara Enim terus mendorong pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna. Sebab, dari ruang kelas yang memberikan kesempatan untuk berpikir, berbicara, dan mencoba, lahir generasi yang tidak hanya cakap dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga percaya diri, kritis, komunikatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. SM

0 Likes

Author: humas-dev-2026