Muara Enim (Kemenag Sumsel)—
Senin (27/04/2026). Di tangan yang telaten, tetesan air buangan unit AC tak lagi berakhir sia-sia di selokan. Di selasar madrasah pagi ini, sebuah tindakan sederhana namun sarat makna menjadi pemandangan yang menyejukkan: limbah air kondensasi dikumpulkan setetes demi setetes untuk menghidupkan kembali tanaman-tanaman hias di lingkungan madrasah.
Aksi memanfaatkan air buangan AC untuk menyiram tanaman ini bukan sekadar rutinitas kebersihan biasa. Ini adalah praktik Ekoteologi yang nyata sebuah perwujudan iman di mana nilai-nilai agama diterjemahkan menjadi aksi nyata menjaga kelestarian ciptaan Tuhan di lingkungan MTsN 2 Muara Enim.
Maya Della, sosok tenaga kebersihan di balik aksi ini, terlihat teliti memindahkan air dari jeriken penampungan ke dalam ember. Baginya, setiap tetes air adalah titipan yang memiliki manfaat besar jika dikelola dengan bijak.
“Sayang kalau dibuang begitu saja, padahal ini air bersih hasil embun AC. Bagi saya, ini bagian dari ibadah menjaga amanah. Dengan memanfaatkan air ini, kita sudah melakukan konservasi air sederhana; tidak perlu boros memakai air tanah atau PAM hanya untuk menyiram bunga. Tanaman pun tampak lebih segar karena air ini alami,” ujar Maya Della.
Langkah Maya ini sejalan dengan visi madrasah dalam membangun karakter siswa yang peduli lingkungan. Kepala Madrasah (Kamad) MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang tumbuh dari kesadaran mandiri tersebut. Ia menilai tindakan ini sebagai bentuk dakwah lingkungan yang sangat efektif bagi seluruh warga madrasah.
“Apa yang dilakukan ini adalah teladan nyata bagi seluruh warga madrasah. Ekoteologi tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi diwujudkan dalam tindakan sehari-hari di lapangan. Memanfaatkan air AC untuk menyiram tanaman adalah bentuk rasa syukur dan kepedulian kita terhadap sumber daya air yang terbatas, sekaligus menjalankan amanah sebagai khalifah yang menjaga kelestarian bumi,” tegas Misliyani.
Melalui langkah kecil namun konsisten ini, MTsN 2 Muara Enim menunjukkan bahwa menjaga bumi adalah bagian tak terpisahkan dari spiritualitas. Sebuah pesan kuat tersirat dari setiap siraman: bahwa dari limbah yang dianggap tidak berarti, muncul berkah yang menghidupkan alam sekitar. (SM)
