Muara Enim (Kemenag Sumsel)—
Menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan berbicara tentang kebersihan. Kesadaran ekologis perlu ditanamkan melalui pembelajaran dan diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari. Semangat inilah yang mengemuka dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) KBC di MTsN 2 Muara Enim, Kamis (10/9/2026), melalui materi Ekoteologi yang disampaikan Rudi Hermawan.
Dalam kegiatan tersebut, para guru diajak melihat lingkungan bukan sekadar sebagai ruang tempat berlangsungnya aktivitas madrasah, tetapi sebagai bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga. Ekoteologi diarahkan menjadi landasan untuk membangun kesadaran bahwa merawat alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan akhlak.
Rudi Hermawan menegaskan bahwa pembelajaran memiliki kekuatan besar untuk mengubah cara pandang peserta didik terhadap lingkungan.
“Ekoteologi jangan berhenti sebagai materi yang disampaikan di ruang kelas. Ia harus hadir dalam tindakan. Guru dapat mengajak siswa melihat persoalan lingkungan di sekitarnya, memahami dampaknya, kemudian mengambil bagian dalam memberikan solusi,” ujar Rudi.
Ia mendorong guru untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan persoalan lingkungan lokal. Pengurangan sampah plastik, pengelolaan limbah, penghijauan, pemanfaatan sumber daya secara bijak, hingga perawatan tanaman dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang membentuk karakter peserta didik.
Peserta MGMP, Ratu Triana, menyambut positif materi tersebut. Menurutnya, ekoteologi memberikan perspektif baru bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
“Materi ini membuka wawasan kami bahwa isu lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran secara nyata. Siswa tidak hanya diberi tahu bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi diajak melihat persoalannya dan membangun kebiasaan untuk ikut menjaganya,” ungkap Ratu.
Sementara itu, Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, menegaskan bahwa penguatan ekoteologi sejalan dengan komitmen madrasah dalam membangun karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan.
“Anak-anak harus tumbuh dengan kesadaran bahwa alam bukan hanya untuk dimanfaatkan, tetapi juga harus dirawat. Karena itu, nilai kepedulian terhadap lingkungan perlu hadir dalam pembelajaran, pembiasaan, dan kehidupan sehari-hari di madrasah,” tegas Misliyani.
Ia berharap materi yang diperoleh dalam MGMP tidak berhenti sebagai pengetahuan bagi para guru, tetapi diterjemahkan menjadi pembelajaran dan aksi nyata yang dapat dirasakan langsung oleh peserta didik.
Melalui kegiatan ini, MTsN 2 Muara Enim terus mendorong terbangunnya budaya madrasah yang peduli lingkungan. Guru diharapkan menjadi penggerak perubahan dengan menjadikan ruang kelas dan lingkungan madrasah sebagai tempat peserta didik belajar memahami, mencintai, dan menjaga alam.
Dari ruang MGMP, semangat ekoteologi diharapkan bergerak menuju aksi nyata dari guru kepada siswa, dari pembelajaran menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan menjadi karakter. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mencerdaskan generasi, tetapi juga menumbuhkan generasi yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan bumi. (SM)
