MTsN 2 Muara Enim Berita Menjaga Lingkungan, Menanam Disiplin dan Iman Melalui Ekoteologi

Menjaga Lingkungan, Menanam Disiplin dan Iman Melalui Ekoteologi

Muara Enim (Kemenag Sumsel) —

Pagi ini, Jumat 27 Februari 2026 embun masih menggantung di ujung daun ketika derap langkah siswa mulai memenuhi halaman MTsN 2 Muara Enim. Tak ada teriakan keras, tak ada paksaan. Yang ada hanyalah kebiasaan yang tumbuh perlahan: memungut sampah sebelum bel masuk berbunyi, merapikan pot tanaman, memastikan kran air tertutup rapat, dan menyapu lantai kelas, mengelap kaca jendela dengan penuh tanggung jawab.

Di setiap ruang belajar, suasana gotong royong terasa nyata. Siswa kelas VII hingga IX berbagi tugas: ada yang menyapu, mengepel, membersihkan papan tulis, hingga merapikan meja dan kursi agar tertata rapi. Kegiatan membersihkan lingkungan kelas ini bukan sekadar rutinitas piket, tetapi bagian dari pembentukan karakter berbasis ekoteologi, kesadaran bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari menjaga amanah Tuhan.

Dengan semangat dan canda tawa para siswa yang didampingi oleh wali kelas, bersama-sama membersihkan lingkungan kelas masing-masing, terlihat para siswa menyapu dan menyikat saluran air agar tidak tidak tergenang saat hujan turun.

Di tengah isu krisis lingkungan yang kian nyata, konsep ekoteologi hadir bukan sekadar teori, melainkan praktik hidup sehari-hari. Ekoteologi memandang alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Spirit inilah yang terus digaungkan di berbagai satuan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Waridah, siswi kelas 7G, mengaku kini lebih memahami makna disiplin melalui kegiatan sederhana tersebut. “Dulu saya pikir piket itu hanya kewajiban supaya kelas bersih tidak dimarahi guru. Sekarang saya sadar, menjaga kebersihan itu tanggung jawab kita sebagai manusia. Kalau kelas bersih, belajar juga jadi nyaman,” ujarnya dengan senyum bangga.

Menurutnya, kebiasaan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan kelas sebelum pelajaran dimulai membuat dirinya lebih teratur dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau di sekolah saja kita tidak disiplin, bagaimana nanti di luar sekolah?” tambah Wardah.

Kepala madrasah, Misliyani, menegaskan bahwa gerakan menjaga lingkungan bukan sekadar program sesaat, melainkan budaya yang harus tertanam kuat dalam diri peserta didik. “Kami ingin menanamkan bahwa disiplin menjaga lingkungan adalah bagian dari keimanan. Kebersihan bukan hanya slogan, tetapi karakter. Ketika anak-anak terbiasa membersihkan kelas tanpa disuruh, di situlah nilai tanggung jawab tumbuh,” tegasnya.

Di halaman yang mulai terang oleh sinar matahari pagi, siswa kembali ke bangku masing-masing dengan kelas yang bersih dan rapi. Dari sapuan lantai, dari debu yang dibersihkan, dari sampah yang dipungut—di situlah karakter sedang dibentuk.

Ekoteologi mungkin terdengar sebagai istilah besar, tetapi ia hidup dalam tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari. Dan dari kebiasaan menjaga lingkungan kelas itulah, tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman, peduli, dan disiplin menjaga bumi. (LM)

5 Likes

Author: humas