Muara Enim (Kemenag Sumsel)—
Sebuah pemandangan inspiratif tersaji di pelataran MTsN 2 Muara Enim pagi ini. Bukan karena instruksi guru atau paksaan kurikulum, melainkan murni atas kesadaran dan keinginan sendiri, sekelompok siswi terlihat asyik tenggelam dalam bacaannya. Aktivitas mandiri pada Rabu (22/4) ini menjadi bukti nyata bahwa literasi bukan lagi sekadar slogan, melainkan telah menjadi “nafas” yang mengalir alami dalam keseharian siswa.
Dampak paling signifikan dari budaya membaca atas inisiatif sendiri ini adalah meningkatnya ketahanan konsentrasi siswa. Di tengah gempuran konten digital yang serba instan, siswa MTsN 2 Muara Enim justru secara sukarela melatih otak untuk berpikir mendalam (deep thinking). Hal ini berdampak langsung pada kemampuan mereka dalam menyerap materi pelajaran yang kompleks dengan lebih tenang dan terstruktur.
Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, mengungkapkan rasa bangganya terhadap perubahan perilaku siswa yang kini lebih proaktif mencari ilmu.
“Kami melihat dampak yang sangat positif ketika literasi muncul dari kesadaran sendiri, bukan karena disuruh. Siswa menjadi lebih kritis dan memiliki daya nalar yang lebih tajam. Ini adalah fondasi karakter unggul yang kami harapkan tumbuh di madrasah ini,” jelas Misliyani.
Budaya literasi yang lahir dari rasa ingin tahu yang besar ini juga memicu lompatan pada kecakapan komunikasi. Siswa yang membaca karena keinginan sendiri cenderung memiliki pemahaman yang lebih dalam dan orisinal terhadap suatu informasi.
Nazwa Fauziyah Lubis, salah satu siswi yang kerap menghabiskan waktu istirahatnya dengan buku, berbagi pengalamannya tentang manfaat yang ia rasakan.
“Membaca atas keinginan sendiri itu jauh lebih menyenangkan karena kita benar-benar menikmati setiap halamannya. Saya merasa wawasan jadi lebih luas, dan itu membuat saya lebih percaya diri serta berani saat harus berdiskusi atau menyampaikan pendapat di depan kelas,” ungkap Nazwa.
Lebih jauh lagi, literasi yang menjadi kebutuhan pribadi ini berdampak pada kemandirian karakter. Dengan mengeksplorasi beragam genre secara bebas, siswa belajar memahami berbagai sudut pandang kehidupan secara lebih dewasa. Hal ini memperhalus budi pekerti dan meningkatkan rasa empati di lingkungan madrasah, menciptakan atmosfer belajar yang harmonis dan saling menghargai.
Pemandangan para siswi yang asyik dengan buku-bukunya hari ini bukan sekadar potret aktivitas madrasah, melainkan investasi jangka panjang. Di MTsN 2 Muara Enim, literasi telah bertransformasi dari sekadar tugas menjadi sebuah kekuatan batin yang menyiapkan mereka menjadi generasi pemenang di masa depan. (SM)
