Muara Enim (Kemenag Sumsel)—
Pagi ini, Jumat (13/2/2026), langit di atas Muara Enim nampak murung. Sejak fajar menyingsing, hujan turun dengan derasnya, menyisakan genangan di lapangan utama MTsN 2 Muara Enim. Namun, dinginnya cuaca tak mampu membekukan semangat spiritualitas yang telah menjadi urat nadi di madrasah ini.
Biasanya, setiap Jumat pagi, lapangan madrasah akan diwarnai oleh barisan siswa yang melaksanakan kegiatan Muhadharah. Namun, karena cuaca yang tidak mendukung, ritual mingguan ini mengalami penyesuaian tanpa mengurangi kekhusyukannya.
Alih-alih berkumpul di bawah atap langit, para siswa hari ini tetap berada di dalam kelas masing-masing. Di bawah bimbingan hangat para wali kelas, suara riuh canda remaja seketika berganti menjadi lantunan ayat suci Al-Qur’an dengan target hari ini adalah Surat Yasin.
Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, yang akrab disapa Umi Misly, menegaskan bahwa perubahan lokasi ini bukanlah penghalang bagi esensi ibadah.
“Hujan adalah berkah, dan tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk menyurutkan langkah dalam membumikan Al-Qur’an. Meski hari ini Muhadharah tidak bisa di lapangan, gema Yasin dari tiap-tiap kelas justru terasa lebih intim dan meresap,” ujar Umi Misly dengan lembut namun tegas.
Kekompakan ini tidak hanya milik para siswa. Di ruang guru, pemandangan serupa terlihat jelas. Umi Misly bersama para guru dan staf pegawai duduk bersama dengan khusyuk. Mereka turut melantunkan bait demi bait Surat Yasin, mengirimkan doa bagi keberkahan madrasah dan keselamatan seluruh keluarga besar MTsN 2 Muara Enim.
Umi Misly menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari pembentukan karakter yang konsisten.
“Kami ingin anak-anak melihat bahwa gurunya pun melakukan hal yang sama. Kami ingin menanamkan bahwa dalam kondisi apa pun, Al-Qur’an adalah tempat kita kembali. Di ruang kelas atau di lapangan, niatnya tetap satu: mengetuk pintu langit demi kebaikan kita semua,” tambahnya.
Pemandangan ini menjadi pesan mendalam bagi masyarakat dan orang tua siswa. MTsN 2 Muara Enim menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak mengenal kata libur, bahkan saat hujan paling deras sekalipun.
Disiplin spiritual yang diajarkan Umi Misly dan jajarannya melatih siswa untuk adaptif. Jika rencana awal di lapangan terhalang alam, kelas menjadi tempat suci yang baru. Ketangguhan (resilience) inilah yang diharapkan terbawa hingga para siswa terjun ke masyarakat kelak.
Hujan mungkin membasahi bumi Muara Enim pagi ini, namun di MTsN 2, ia justru menjadi saksi betapa hangatnya lantunan doa. Lewat Surat Yasin yang menggema, madrasah ini kembali membuktikan bahwa cahaya iman akan selalu menemukan jalannya, menembus rintik hujan dan sekat-sekat dinding kelas.
