Muara Enim (Kemenag Sumsel)—
Suasana riuh khas remaja putri di kelas-kelas MTsN 2 Muara Enim perlahan melenyap, berganti dengan kekhidmatan yang menyejukkan siang ini, Jumat (22/5/2026). Ratusan siswi duduk bersimpuh, menyimak dengan saksama materi tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah.
Hari itu, kegiatan keputerian rutin madrasah bukan sekadar pengisi waktu menjelang akhir pekan, melainkan sebuah ruang refleksi untuk mengetuk gerbang spiritualitas mereka. Riuh rendah dunia digital yang biasa akrab dengan keseharian remaja, seolah menyingkir sejenak. Fokus mereka tertuju pada materi bertajuk “Keutamaan dan Sunnah-Sunnah di Bulan Dzulhijjah” yang disampaikan oleh wali kelas mereka masing-masing.
Di sana tertera jelas jadwal yang kian dekat: Puasa Tarwiyah pada 25 Mei dan Puasa Arafah pada 26 Mei. Lebih dari sekadar teori fikih tentang kurban atau larangan memotong kuku, pertemuan hari ini menanamkan esensi yang lebih dalam—tentang bagaimana menjaga lisan, merawat akhlak, dan mengetuk pintu surga lewat bakti kepada orang tua.
Kepala MTsN 2 Muara Enim, Misliyani, yang memantau langsung jalannya kegiatan, tersenyum bangga. Baginya, mendidik remaja putri di era modern memerlukan pendekatan yang menyentuh hati, bukan sekadar instruksi di atas kertas.
“Kegiatan keputerian ini adalah wadah strategis untuk mencetak generasi muslimah yang berakhlak karimah. Kami ingin para siswi MTsN 2 Muara Enim tidak hanya unggul dan cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan benteng moral yang kuat di tengah perkembangan zaman,” tutur Misliyani penuh harap.
Senada dengan Kepala Madrasah, Pembina Tahfidz MTsN 2 Muara Enim, Lailatul Khoiriah, melihat momentum emas 10 hari pertama Dzulhijjah sebagai waktu terbaik untuk memacu semangat berinteraksi dengan kitab suci.
“Di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, amalan shaleh sangat dicintai Allah. Melalui kegiatan ini, kami memotivasi siswi untuk memperbanyak tadarus dan menjaga hafalan mereka sebagai bentuk implementasi dari materi keputerian hari ini,” ungkap Lailatul dengan mata berbinar.
Dampak nyata dari program ini bukan lagi sekadar target kurikulum, melainkan denyut nadi perubahan yang dirasakan langsung oleh siswi. Lembaran materi yang mereka pegang bertransformasi menjadi panduan hidup yang siap dibawa pulang ke rumah. Rasa antusias itu terpancar jelas dari wajah Quenza Raya Sakinah. Siswi yang ikut hanyut dalam khidmatnya ruangan siang itu mengaku mendapat suntikan motivasi baru untuk mengisi hari-hari ke depannya dengan amalan positif.
“Melalui kegiatan keputerian hari ini, saya jadi lebih paham tentang keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah yang sebentar lagi tiba. Insya Allah, ilmu yang didapat hari ini akan langsung saya amalkan dan saya bagikan juga ke teman-teman dan keluarga di rumah,” cetus Quenza penuh semangat.
Saat kegiatan berakhir, tidak ada langkah kaki yang terburu-buru. Di seluruh ruang kelas, terlihat semua siswa menjalankan salat dzuhur berjamaah. Sebuah dampak kecil yang nyata, membuktikan bahwa dari ruang keputerian hari ini, MTsN 2 Muara Enim sedang menenun karakter generasi muslimah masa depan yang kokoh, santun, dan bercahaya secara spiritual. (SM)
