
Muara Enim (Kemenag Sumsel)—
Jumat (3/10/2025). Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Utama MTsN 2 Muara Enim pada saat kegiatan Muhadharah yang rutin digelar. Acara ini menjadi lebih istimewa dengan hadirnya Ibu Lailatul Khoiriyah, salah satu guru IPS yang berkesempatan menyampaikan tausiyah penting bertema Kekuatan dan Keutamaan Menjaga Lisan.
Ibu Lailatul Khoiriyah mengingatkan seluruh siswa bahwa lisan adalah penentu keselamatan dan kebahagiaan.
“Lisan ini tak bertulang, tapi dampaknya bisa lebih mematikan dari pedang. Satu kata yang tak terkontrol bisa menghancurkan hati, merusak persahabatan, bahkan menjerumuskan kita pada dosa,” tegasnya.
Laila juga menekankan pesan Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Tambahnya lagi.
Dalam tausiyahnya, Ibu Lailatul Khoiriyah membagikan tiga cara praktis yang wajib diterapkan siswa MTsN 2 Muara Enim dalam pergaulan sehari-hari yang pertama yaitu berpikir sebelum berbicara, siswa diminta membiasakan diri untuk menyaring ucapan (tashfiyah) sebelum melontarkannya. Tanyakan: “Apakah ucapan ini benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti?” Jika jawabannya meragukan, menahan diri adalah kebaikan. Kemudian yang kedua ujar laila ubah kritikan menjadi doa, untuk menghindari ghibah dan celaan, beliau mengajarkan siswa untuk mendoakan kebaikan bagi teman atau orang lain yang memiliki kekurangan. Ganti niat mencela dengan niat mendoakannya. Doa lebih membersihkan hati kita daripada kritik yang sia-sia,” imbuhnya.
Kemudian yang terakhir yaitu berkata baik atau diam. Ini adalah prinsip utama. Ketika seseorang tidak memiliki kata-kata yang baik atau membangun untuk diucapkan, maka diam adalah ibadah dan pilihan yang paling aman, menyelamatkan diri dari dosa perkataan yang tidak perlu.
Wakasis MTsN 2 Muara Enim Ibu Alpisahriah menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif tausiyah ini. Ia berharap materi ini menjadi landasan kuat bagi karakter siswa.
“Kami sangat mengapresiasi tausiyah dari Ibu Lailatul. Penjagaan lisan adalah fondasi akhlak mulia. Kami berharap, materi ini tidak hanya didengar, tetapi benar-benar diamalkan oleh seluruh siswa agar tercipta lingkungan madrasah yang penuh kedamaian dan keberkahan,” ujar Alpi.
Antusiasme juga ditunjukkan oleh siswa. Noha Sisprilia Saputri, siswi Kelas 9A, merasa tausiyah ini sangat relevan dengan kehidupan remaja saat ini.
“Materi ini sangat mencerahkan, terutama tentang bahaya asal bicara. Bagian tentang mengubah kritikan menjadi doa itu paling menohok dan akan saya coba terapkan. Semoga kami semua bisa lebih berhati-hati dalam menggunakan lisan,” tutur Noha.
Kegiatan Muhadharah ditutup dengan harapan besar bahwa seluruh siswa MTsN 2 Muara Enim dapat menjadi pribadi yang sukses, tidak hanya dalam akademik tetapi juga memiliki lisan yang selalu terjaga dari hal-hal yang tidak bermanfaat. (SM)
