MTsN 2 Muara Enim Berita Membasuh Iman dengan Sapu dan Doa: Denyut Ekoteologi di MTsN 2 Muara Enim

Membasuh Iman dengan Sapu dan Doa: Denyut Ekoteologi di MTsN 2 Muara Enim

Muara Enim(Kemenag Sumsel)—

Senin pagi (23/2/2026) di Muara Enim tidak dimulai dengan deru bising kendaraan atau tumpukan buku yang membosankan bagi siswa-siswi MTsN 2. Alih-alih langsung berkutat dengan rumus matematika, para siswa justru menyambut mentari pagi dengan tangan yang menggenggam sapu dan hati yang terhubung dengan alam.

Inilah potret hari pertama masuk madrasah yang berbeda. Di bawah payung besar bernama Ekoteologi, kebersihan bukan lagi sekadar jadwal piket yang terpaksa, melainkan sebuah ritual ibadah yang menghidupkan suasana madrasah.

Jika biasanya hari pertama masuk madrasah identik dengan suasana kaku, di MTsN 2 Muara Enim, transformasi lingkungan langsung terasa pada atmosfernya. Tidak ada lagi sisa dedaunan kering yang berantakan atau debu tipis di atas meja kayu. Udara terasa lebih lega, dan pemandangan hijau dari tanaman yang terawat memberikan efek tenang bahkan sebelum pelajaran pertama dimulai.

Dampak yang paling signifikan bukanlah sekadar pada kinclongnya lantai kelas, melainkan pada lahirnya paradigma baru di benak para siswa. Kini, kebersihan bukan lagi dipandang sebagai tugas berat “petugas madrasah”, melainkan tanggung jawab personal yang lahir dari rasa syukur mendalam kepada Sang Pencipta. Perubahan cara pandang ini menciptakan ruang belajar yang seolah “bernapas”, di mana lingkungan yang tertata rapi secara psikologis meningkatkan fokus dan kenyamanan siswa dalam menyerap ilmu. Lebih jauh lagi, kesadaran ini mulai mengakar menjadi aksi nyata, seperti kebiasaan baru memilah sampah dan komitmen untuk meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai sebagai wujud nyata akhlak terhadap alam.

Kepala MTsN 2 Muara Enim, Umi Misliyani, melihat perubahan ini sebagai keberhasilan pendidikan karakter yang hakiki. Baginya, ekoteologi adalah jembatan yang menghubungkan nilai-nilai langit dengan tindakan di bumi.

“Kami ingin siswa paham bahwa menjaga alam adalah bagian dari sujud mereka kepada Sang Pencipta. Ketika lingkungan sehat, jiwa pun ikut sehat,” ungkapnya dengan bangga.

Para guru pun tidak hanya berdiri memberikan instruksi, tetapi turut terjun langsung memberikan teladan. Dampaknya, kedekatan emosional antara guru dan siswa terjalin lebih erat melalui peluh gotong royong ini. Ada tawa yang pecah di sela-sela kegiatan menyapu, dan ada rasa bangga yang buncah saat menatap halaman madrasah yang asri hasil keringat bersama.

Gerakan ini bukan sekadar euforia hari pertama. Dampak jangka panjang yang mulai mengakar adalah lahirnya budaya malu membuang sampah sembarangan yang menjadi identitas baru warga madrasah. MTsN 2 Muara Enim sedang membuktikan bahwa dari sebuah institusi pendidikan Islam, bisa lahir pejuang lingkungan yang membawa napas keberlanjutan bagi bumi.

Hari ini, MTsN 2 Muara Enim tidak hanya membuka buku pelajaran baru, tetapi juga mengukir komitmen abadi untuk masa depan yang lebih hijau dan diberkati. (SM/EA)

5 Likes

Author: humas